31 Januari 2010

(Ternyata) ada ’SeribuSatu’ cara dalam penguraian

after Dabu-dabu,Setiabudi building (Kamar ungu16 April 2008)



Apakah sebuah idealisme dalam arsitektur dapat diukur dengan kata terlalu?
Terlalu idealisme...
Apakah sebuah idealisme dalam arsitektur dapat diukur dengan kata kurang?
Kurang idealisme...a.k.a realistis?
apakah idealisme sealu terkait dengan ’unrealistic’?

Memangnya, apa arti sesungguhnya dari idealisme...apa makna arsitektur dalam memaknai kata idealisme?
Apakah benar perbedaan idealisme itu hanya berdasarkan atas perbedaaan cara?
Lalu,kenapa ada istilah terlalu atapun kurang?
Bahkan ada dan tiada?
Untuk sebuah idealisme?

Lagi-lagi,bukankah kita hanya berbicara sebuah perbedaaan cara?

Saya sungguh tidak mengerti...
Saya hanya tahu penjabaran sebuah kebudayaan adalah sama dengan menjabarkan benang yang kusut...harus diurai satu persatu dan sabar.
Satu yang penting, semua berbicara mengenai ’cara’ penguraiannya.
Ada yang memulai dari sisi terkusut..ada yang memulai dari benang yang terluar..ada yang memakai tangan kosong..ada yang memakai bantuan alat..dan seribu satu cara dalam penguraian.
Apakah ada yang salah?

Saya sungguh tidak mengerti...
Saya hanya tahu bahwa arsitektur adalah sebuah alat untuk menguraikan sebuah kebudayaan..atau bahkan terbalik,arsitektur adalah alat untuk membentuk sebuah rangkaian kebudayaan.
Whatever it is....Arsitektur = Kebudayaan

Lagi-lagi,bukankah kita hanya berbicara sebuah perbedaaan cara?




Jadi, bolehkah saya mengungkapkan bahwa menguraikan sebuah karya arsitektur adalah sama sulitnya dengan menguraikan benang yang kusut?

Lagi-lagi,bukankah kita hanya berbicara sebuah perbedaaan cara?

Tapi...
Dalam sebuah perbedaan cara, bukankah selalu berkaitan langsung dengan pilihan?
Namun,sampai batas manakah sebuah pilihan dapat berkompromi dalam sebuah perbedaan?

Apakah ketika kita merasa telah sampai pada batas waktu dimana kita tidak dapat berkompromi dengan ’the others cara’..itulah di saat kita berkenalan dengan idealisme?
Ataukah justru ’the cara’s’ itulah sesungguhnya idealisme?

Lagi-lagi,bukankah kita hanya berbicara sebuah perbedaaan cara?

Kali ini kita berbicara sebuah –maksud saya beragam- perbedaan cara pandang.
Lalu kapan kita dapat tahu mana yang paling benar?
Jika tidak ada kebenaran di dalamnya, kecuali milik tuhan
Setidaknya kapankah kita dapat menentukan mana yang paling baik?

Apakah masih tidak bisa juga....
Hanya untuk menentukan mana yang palng baik...
Minimal untuk mengetahui mana yang baik...dan memilihnya untuk dijalani...

Lalu..
Apakah salah ketika kita telah berhasil menentukan sesuatu yang baik (menurut kita)?

Dan apakah ketika sesuatu yang baik(menurut kita) bertemu dengan sesuatu yang baik (menurut orang lain)..lalu muncul cikal bakal perdebatan kata terlalu ataupun kurang..
Bahkan ada dan tiada?

Lagi-lagi,bukankah kita hanya berbicara sebuah perbedaaan cara?


Ketika kita berbicara di dalam zona abu-abu
Kita bagaikan menonton film laga..
polanya sama
Yaitu : jagoan selalu datang belakangan.
Artinya kebenaran selalu datang terakhir.
Dan orang baik selalu harus ditindas di awal
Tak ada jalan potong untuk sebuah kebaikan..
Tak ada kegiatan menunggu..
Semuanya penuh perjuangan..

Lalu kebaikan hadir....
Ketika seribu satu cara telah diperdebatkan sampai tuntas....

Tapi,apakah kita harus tunggu sampai cara ke seribu satu dulu untuk mengetahui kebenarannya dengan berpangku tangan?
Bukankah seharusnya kita dapat berusaha ?
tanpa hanya menunggu atau bahkan hanya memotong jalan pintas untuk mencari sebuah kebaikan?

Kebenaran = kebaikan
Pembenaran = perbaikan

Ironis bukan?
Hanya beda tipis imbuhannya..beda tipis niatnya...
Dampak hasilnya jauh di antara kebaikan dan perbaikan...

Lagi-lagi,bukankah kita hanya berbicara sebuah perbedaaan cara?





Semoga saya dapat menguraikan benang kusut ini
Tanpa ada kata terlalu dan kurang..
Tanpa adanya tiada..
Hanya ada kata ADA...
dan selalu ada-lah untuk sebuah penguraian seribu satu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar