31 Januari 2010

Mau lari kemana saya?

Ruang (tak pernah) kosong ; 14 Feb 08 ; 3.14


Mau lari kemana saya?
Membawa jauh muka ini..
Membawa jauh dentuman dalam dada ini..
Membawa jauh airmata yang berulang kali jatuh dan diseka paksa..
Mau berjalan kemana saya?
Membawa jauh langkah ini..
Membuatnya kongkrit dan nyata
Membawa jauh tangan ini untuk mengulur..
Membuatnya menjadi nyata dengan membakar sepi..

Dia..
salah satu belahan hatiku..
hingga serpihannya terjatuh pun aku dapat mendengarkan lirihnya..
tapi, ini bukan lagi serpihannya..
ini seutuhnya dia..
yang terluka..hidup dalam sepinya..
salah satu belahan hatiku..

tapi..hati saya-pun telah menyerpih..
diserpih olehnya..
-benar-benar saya ditelanjangi bulat-bulat-
Hingga dentingannya ramai dan gaduh..
mengiangi daun telinga..
berjalan menuju kepala..
akupun dapat melihat dalam mata terpejam..
bahwa sepi telah menjadi milik khalayak ramai..

tadinya kupikir hanya milik saya..
ternyata miliknya jauh lebih besar..

bentangan waktu yang saya punya jauh lebih panjang..
tapi sepi yang saya punya jauh lebih pendek..

lalu,,
kembali ke pertanyaan semula..
mau lari kemana saya ?
ataukah mau berjalan kemana saya?
Mana yang kupilih..
Berjalan lalu berlari..atau berlari lalu berjalan?
Keduanya sama saja
Mereka telah menyerpih dengan sempurna

Bertemu di dalam sepi..
Sepi yang berbeda..
Dalam kebersamaannya di dalam waktu..

*after that shocking moment, mencoba memenangkan kedewasaan ini dengan uluran tangan ini sebagai penghalau sepi-nya*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar