08 Juni 2012

Mamakita

Menyusui.
Adalah sebuah keajaiban berikutnya setelah hamil dan kelahiran.
Beruntung saya diberi kesempatan merasakan nikmatnya menjadi mamalia spesial.
Manusia.
Kenapa saya bilang mamalia spesial?
Karena cuma manusia yang bisa memilih mau menyusui dengan air susunya sendiri atau menyusui dengan air susu mamalia lainnya, sapi atau kambing misalnya.
Saya rasa mamalia lain belum tentu bisa bertukar susu seperti itu.
Eh tapi kita kan bukan mamalia deng. Diganti deh istilahnya.
Mamakita deh..hehe

Sebagai mamakita sejati.
Saya resmi memutuskan tidak ingin memiliki niat melirik susu mamalia lain untuk menyusui anak saya.
Mungkin kecuali jika di ujung tanduk sekali, sudah tidak ada pilihan lain.
Itu bisa jadi lain hal.
Tapi diniatkan di awal.
Tidak ingin sama sekali.

Resmilah sedari hamil saya ribut.
Kepengen inisiasi menyusui dini.
Kepengen rooming in.
Kepengen bertahan 3hari pertama lahiran,keluar tidak keluar ASI, bayi tidak diberi asupan apapun.
Kepengen tidak kenal dot agar tidak bingung puting.
Kepengen ASI ekslusif 6 bulan dan lanjut hingga 2 tahun.
Dan SOP* lainnya..

Ah,saya rasa masamasa tersulit sudah terlewati dengan baik,yakni hamil dan melahirkan.
Menyusui pasti lebih mudahlah. Tinggal buka lapak. Beres.
Tunggu dulu. Watch your mind.

Plak.

Itu tamparan pertama saya untuk hari pertama saya belajar menyusui.
Saya pikir apa susahnya bagi seorang perempuan membuka payudaranya dan apa susahnya bagi seorang bayi menghisap susunya. Toh pada dasarnya kita ini mamakita, mamalia spesial.
Sapi aja anak banyak gak kapok kapok terus menyusui.
Kucing.anjing.kambing.
Ah masa saya tidak bisa?

Suster meletakkan bayi saya setelah 6jam kelahirannya.
Buka lapak. Mulut bayi terbuka.
Nyot kenyot. Ah mudah sekali.
Menit kedua hadir. Bayi saya menangis.
Saya ulangi prosesnya.
Lalu dia menangis lagi
Begitu terus berulang ulang.
Ternyata air susu saya entah ada entah tidak.belum terlihat keberadaannya.
Terusterusan saya ulangi. Akhirnya berhasil keluar juga penampakan ASInya.
Suster pun membantu massage.agar lancar adanya.
Bayi saya tetap menangis. Tetap tidak sabar.
Tetap ingin menghisap tanpa hentinya.
Saya pun mulai merasakan perih dan tidak nyaman.

Lecet.

Kata suster dan dokter itu prosesyang wajar.
Hanya terus susui lah satu satunya cara untuk solusinya.
Lalu saya belajar memompa asi dengan breastpump.
Asi saya merem melek. Cuma bisa basahin pantat botol.
Terus berlangsung sampai saya kembali ke rumah.

Saya mulai memompa malam hari dan menangis diam diam.
Saya meminta sumbangan ASI dari kakak saya yang bayinya berumur 40 hari lebih cepat dari bayi saya.
Kakak saya datang membawa botol susu yang beriai susu penuh.
Saya berterima kasih bersamaan terbengong melihat botol susu yang penuh, lalu melihat botol susu saya yang basah di ujung saja.
Saya mulai menagis diam diam (lagi)
Saya takut tidak bisa memproduksi asi yang cukup untuk bayi saya.
Bolehkah saya menyalahkan hormon atas segala perasaan sentimentil ini?hehe..

Keesokan paginya saya dikejutkan hal lainnya.
Bukan. Bukan lagi lecet.

Kaki saya bengkak.seperti kaki gajah.

Diduga saya salah posisi duduk ketika menyusui. Tidak saya selonjorkan.
Tangisan diam diam pun mulai dapat dikonsumsi publik.
Suami saya orang pertama. Mama orang kedua. Orang ketiga akhirnya dihadirkan oleh mama sebagai solusi.
Suster rumah sakit.
Senam nifas. Massage .pelajaran memandikam bayi dan sebagainya
Diajarkan kilat olehnya.
Perlahan kaki saya membaik.
Asi saya mulai lancar.
Dan titik terang pun mulai muncul.
Hasil pompa asi sudah bisa sebotol.dan teru meningkat.
Bayi saya mulai terlihat kenyang.saya pun susah lebih tenang.

Akhirnya...
Saya dapat menyusui bayi saya...




....




Mamakita sejati telah lahir.
:)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar