30 Agustus 2010

camera.rolling.action

seperti melihatnya melalui layar kaca.
semuanya melalui sebuah permulaan, dengan atau tanpa akhir.
tapi, dimanapun semua memang sama, bahwa konflik di dalam sebuah cerita adalah dunia persepsi manusia dengan nama kotanya adalah prasangka.

benar adanya, ketika konflik telah terpicu menjadi konflik, dari berbagai macam sudut pandang memang akan selalu benar atau selalu salah.
tergantung jalur persepsi yang kita ambil.

jika ini semua sudah disutradarai, brarti sang sutradara sudah memplot persepsi mana yang akan bertentangan, melebur, dan selesai.
itu juga berdasarkan persepsinya sang sutradara tersebut.

dan jika itu benar adanya,
lalu, mengapa kita perlu repot berpersepsi sendiri sendiri lagi.

si satu merasa dibicarakan dengan omongan miring.
si satunya lagi juga merasa dibicarakan dengan omongan miring.

mau cari yang paling benar juga susah.
keduanya bersumpah.
mengatasnamakan seruan sutradara

bukankah tidak perlu repot.
cukup baca skrip dari sutradaranya.

makian dan hinaan, apalagi sumpah itu berbahaya.
sutradara selalu akan mengabulkan ide-ide baru yang kita lontarkan.
meskipun itu berupa sumpah serapah
ataupun panjatan doa harga mati
layaknya doa terhadap malin kundang.

sangat menyeramkan.
bagaimana jika terkabulkan.

oh sutradara,
tolong pecat penulis dialogmu itu.
kasihan kan para aktor dan artisnya.
jadi bingung
mana yang perlu dipentingkan
peran pemeran utama wanita
dan peran pemeran utama pria


atau para pemeran pembantu sih?



...................................



memang hanya sutradara
yang bisa membolak balikkan cerita..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar